Berita

Press Rilis

Wawasan Jurnalistik

Recent Posts

Dialog PWI Pamekasan Bahas Persoalan Tembakau

PWI Pamekasan 4.9.19 Add Comment
PWINews - Dialog publik yang digelar secara rutin oleh organisasi profesi wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan bersama JTV Madura dan Radio Ralita FM Pamekasan akan membahas tentang persoalan tembakau yang kini banyak menjadi sorotan publik di Kabupaten Pamekasan.

"Ada beberapa pertimbangan tema dialog tentang tembakau yang akan kami gelar pada 5 September 2019 ini," kata Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz dalam keterangan persnya kepada wartawan di Pamekasan, Rabu (4/9/2019).

Pertama, pertanian tembakau selama ini merupakan jenis pertanian yang menjadi tumpuan petani di Madura secara umum dan Pamekasan secara khusus, sehingga persoalan tembakau dinilai sangat mewakili kepentingan publik.

Kedua, Kabupaten Pamekasan merupakan satu-satunya kabupaten yang memiliki ketentuan berupa Peraturan Daerah tentang Tata Niaga Tembakau, dan yang ketiga, persoalan tata niaga tembakau disatu sisi sering menjadi komuditas politik, meskipun sejatinya bisnis tembakau ini merupakan bisnis murni, yakni antara pabrikan sebagai pembeli, dan petani sebagai penjual.

"Kendatipun demikian, disatu sisi tembakau juga banyak menyumbang pada pendapatan negara melalui cukai rokok, dan disinilah pentingnya memahami tentang tembakau melalui kedua regulasi ini, yakni regulasi lokal dan nasional," kata Aziz.

Ada tiga narasumber yang diundang hadir dalam dialog publik yang akan digelar tanggal 5 September 2019 dan disiarkan secara live di JTV Madura dan akan dipancarkan ulang di Radio Ralita FM tersebut. Mereka itu masing-masing dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Pamekasan, lalu Kantor Bea dan Cukai Perwakilan Madura di Kabupaten Pamekasan, serta perwakilan dari pihak Asosiasi Petani Tembakau Pamekasan.

Disperindag akan membahas seputar efektivitas pelaksanaan Perda Nomor 4 Tahun 2015 yang mengatur tentang Tata Niaga Tembakau, luas areal lahan tembakau di Pamekasan serta realiasisanya pada musim tanam tahun ini, data pabrikan yang melakukan pembelian tembakau, serta harga jual tembakau petani yang berlaku di masing-masing pabrikan.

Sedangkan dari pihak Bea Cukai akan membahas tentang ketentuan cukai rokok, kenaikan cukai rokok dan imbasnya pada pada kenaikan harga tembakau, alokasi bagi hasil cukai rokok, peredaran rokok ilegal dan upaya penertiban yang akan digelar oleh institusi ini.

Sementara dari Asosiasi Petani Tembakau Pamekasan akan membahas tentang bagaimana pola kemitraan terbangun antara petani dengan pengusaha, luasan lahan di Pamekasan yang telah menjalin kemitraan dengan pabrikan, perusahaan yang telah menjalin kemitraan dengan petani, serta keuntungan pola kemitraan antara petani dengan pihak pabrikan.

Dialog hasil kerja sama segitiga antara PWI Pamekasan, JTV Madura dan Radio Ralita FM Pamekasan ini, merupakan program akan dipandu oleh Sekretaris PWI Pamekasan Esa Arif AS, dan akan disiarkan secara live di JTV Madura mulai pukul 16.00 WIB.

"Selain bisa ditonton secara langsung di JTV Madura juga bisa digengarkan secara langsung di Radio Ralita FM pada Frekwensi 89,1 FM," kata  Wakil Ketua Bidang Kerja Sama PWI Pamekasan Lutfi.

Sebelum dialog publik digelar dalam program yang diberinama "Spektrum Pamekasan" Wakil Ketua bidang Pendidikan PWI Pamekasan Syamsul Arifin akan menyampaikan materi pengantar tentang dasar pemikiran dialog bertema "Tembakau Madura, Antara Harapan dan Kenyataan" itu digelar.

Jurnalis beritajatim.com yang juga dosen Institute Agama Islam Al-Khairat Pamekasan ini akan menjelaskan perihal pentingnya PWI menjadi mediator ilmiah dalam dalam bentuk dialog dalam menyampaikan pendidikan publik atas persoalan-persoalan aktual yang terjadi di Pamekasan. (Humas PWI Pamekasan)

PWI Jatim Kerja sama SKK Migas Gelar UKW

PWI Pamekasan 7.8.19 Add Comment
PWINews - Sebanyak 29 wartawan mengikuti program uji kompetensi wartawan yang digelar PWI Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan SKK Migas Jabanusa dan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

"Penyelenggaraannya pada Selasa-Rabu, 6-7 Agustus 2019 di Kantor SKK Migas Jabanusa Jalan Veteran Surabaya," ujar Ketua PWI Jatim Ainur Rohim di Surabaya, Selasa (6/8/2019).

Seluruh peserta berasal dari berbagai media massa di Jatim, yang rinciannya tercatat sebagai peserta UKW kelas muda 18 orang, kelas madya enam orang dan lima orang lainnya mengikuti kelas utama.

UKW, kata dia, merupakan cara mengukur kemampuan dasar para peserta sebagai wartawan sesuai dengan level atau kelasnya dengan harapan wartawan di daerah, terutama daerah yang memiliki potensi migas kemampuannya menjadi semakin bagus serta berkembang.

"Dengan begitu wartawan punya kemampuan memahami teks dan konteks tentang migas dengan benar. Ini sangat penting agar jangan sampai yang dimaksud narasumber A, tapi ditulis B oleh wartawan," ucapnya.

Selain itu, digelarnya UKW juga bagian dari mengasah kemampuan dan profesionalisme wartawan dalam menjalankan tugas sehari-hari agar selalu mengacu ke kode etik jurnalistik.

Sementara itu, Kepala Humas SKK Migas Jabanusa Doni Ariyanto mengatakan sangat mendukung UKW sebagai bentuk peningkatan kualitas wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya sehari-hari.

"Jika hasilnya bermanfaat besar untuk meningkatkan kualitas, kapasitas dan profesionalisme wartawan, maka ke depan kegiatan serupa siap digelar lagi," katanya.

Sinergi antara media dan dunia hulu migas di Jabanusa, lanjut dia, dirasanya sangat penting, terutama di wilayah Jatim yang memiliki produksinya migas yang besar. (Humas PWI)

Jurnalisme Profetik Husnun N. Djuraid

PWI Pamekasan 7.8.19 Add Comment
Husnun N Djuraid-wafat 4 Agustus 2018 dalam usia 60 tahun—adalah wartawan yang menjalani “laku jurnalisme”.

Laku adalah terminologi Jawa untuk seseorang yang sedang menempuh jalan pengekangan diri (self-restrain) untuk mencapai tujuan-tujuan spritualitas. Dalam hal laku jurnalisme, sang jurnalis mempunyai tujuan transendental, ukhrawiah melalui laku.

Bagi Husnun, jurnalisme bukan sekadar profesi untuk memperjuangkan idealisme ataupun demokrasi yang bersifat profan. Jurnalisme bagi Husnun menjadi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan transendental, ukhrawiah.

Dalam tulisan-tulisannya yang tersebar di banyak media laku transendental Husnun sangatlah kental. Dia memakai jurnalisme sebagai sarana memenuhi kewajiban kemanusiaannya untuk menjalankan amar makruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.

Jurnalisme dalam praktik Husnun, adalah jurnalisme profetik yang bersifat kenabian dengan menerapkan empat strategi dakwah kenabian tabligh (komunikatif), amanah (trustworthy, terpercaya), fatanah (cerdas), dan sidiq (membawa kebenaran).

Di Amerika wartawan menjalankan tugasnya untuk memenuhi hak masyarakat untuk tahu “people’s right to know”, sebagai bagian dari proses demokrasi. Wartawan Amerika (dan Eropa) menjalankan profesinya sebagai bagian dari pengamalan hak konstitusi terutama First Amandment dalam konstitusi Amerika, yaitu memenuhi hak publik untuk mendapatkan kebebasan berekspresi dan memperolah berita.

Jurnalis dan media di barat adalah bagian dari the fourth pillar of democracy, pilar keempat demokrasi dalam sistem Trias Politika Montesquieu untuk memastikan terjadinya check and balance antara tiga pilar; eksekutif, legislatif, dan judikatif. Media menjadi watch dog, anjing penjaga, untuk menggonggongi penyimpangan kekuasaan, abuse of power, dari ketiga lembaga itu.

Dalam hal ini tujuan jurnalisme Barat adalah profan, duniawiah semata karena didasari hanya oleh pandangan materialisme dan rasionalitas.

Janet E. Steele, profesor jurnalistik dari George Washington University, melakukan penelitian paralel di tiga negara; Amerika Serikat, Malaysia, dan Indonesia melibatkan wawancara mendalam dengan puluhan wartawan dan studi kepustaan yang ekstensif, hasilnya dituangkan dalam buku Mediating Islam; Cosmopolitan Journalism in Muslim South East Asia. Dia menyimpulkan bahwa jurnalis Barat mempunyai tujuan yang profan sedangkan jurnalis Indonesia dan Malaysia umumnya mempunyai tujuan transendental, ukhrawiah.

Steele menemukan bahwa motivasi jurnalis Amerika yang paling utama adalah pemenuhan dan pelaksanaan hak-hak demokrasi. Sedangkan wartawan Muslim di Indonesia dan Malaysia menemukan motivasinya untuk menjalankan peran utama sebagai umat terbaik “khairu ummah” dan menerapkan amar ma’ruf nahi munkar.

Di Indonesia Steele melakukan penelitian terhadap tiga media; Majalah Sabili, Republika, dan Tempo. Ketiga objek penelitian itu dipilih untuk mewakili “tiga media Islam” dalam kuadran yang berbeda. Sabili pada masa terbitnya sejak awal reformasi sampai 2013 mewakili suara Islam skripturalis dan Republikabersama Tempo oleh Steele digolongkan dalam media yang memperjuangkan Islam kosmopolitan yang lebih mondial, moderat, modern (orang-orang Tempo tidak sepakat dengan penggolongan ini).

Meskipun memperjuangkan mazhab Islam yang berbeda tapi para jurnalis sama-sama dimotivasi oleh spirit amar makruf nahi munkar, dan dorongan untuk menyampaikan kebenaran meskipun hanya satu ayat (ballighu ‘anni walau ayatan). Majalah Sabili melakukannya dengan tujuan penerapan syariah dalam bernegara, sedangkan Republika dan Tempo ingin menciptakan masyarakat madani yang islami, Islam rahmatan lil alamin.

Parni Hadi, mantan pemimpin redaksi Republikamenyebutnya sebagai “Jurnalisme Profetik” (2014) jurnalisme kenabian yang dijiwai oleh spirit dakwah Nabi Muhammad SAW yaitu tabligh, sidiq, fatanah, dan amanah.

Dalam hal menjalankan etika jurnalistik Steele menyebut jurnalis Muslim Indonesia didasari oleh konsep tabayun, check and recheck, disiplin verifikasi, dari Alquran surat Alhujurat ayat 6, tidak melakukan fitnah dan berita insinuatif Alhuhurat ayat 11-12. Pasal-pasal dalam kode etik jurnalistik memperoleh legitimasi profetik dari ajaran Alquran.

Husnun menjalani jurnalisme profetik sebagai bagian dari kewajiban keimanan yang dia lakukan 24 jam dalam hidupnya. Husnun tidak hanya berdakwah melalui laku jurnalisme, tapi sekaligus laku pribadi. Dia adalah jurnalis yang dalam terminologi Gramsci masuk dalam kategori “jurnalis organik” yang menjadikan laku jurnalisme sebagai laku moral-agama selama 24 jam.

Pada sepertiga malam Husnun memanfaatkan platfrom aplikasi Whatsapp untuk mendakwahkan shalat malam. Pada malam-malam Senin dan Kamis Husnun mendakwahkan puasa sunnah. Pada pagi hari saat matahari naik Husnun mendakwahkan shalat Dhuha.

Husnun konsisten memegang etika jurnalisme yang didasari oleh kode etik jurnalistik dan spirit qurani. Husnun tidak menulis fitnah dan insinuasi, apalagi hoax karena kesadaran qurani.

Di tengah tsunami informasi, banjir hoax, serta degradasi profesi jurnalis, kepergian Husnun adalah sebuah kehilangan yang menyesak dada. (*)

Penulis adalah Dhimam Abror Djuraid, dosen Stikosa-AWS, dan tulisan ini telah dimuat di jawapos.com pada 6 Agustus 2019.

Moh Amin Pimpim PWI Bangkalan Periode 2019-2022

PWI Pamekasan 5.8.19 Add Comment
PWINews - Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron meminta agar wartawan agar bisa menyajikan berita edukatif dengan data yang akurat. Hal itu disampaikan Ra Latif saat pelantikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2019-2022.

"Setiap detik informasi apapun secara cepat masuk di media sosial, kecepatan ini harus diimbangi dengan penyajian data yang aktual, sehingga masyarakat bisa membaca berita yang benar adanya di lapangan,” ungkapnya.

Selain itu, Ra Latif berharap keberadaan PWI Bangkalan bisa ikut membantu memberikan informasi program kerja Pemkab Bangkalan kepada masyarakat, agar bisa ikut mengotrol kinerja pemerintahan.

“Saya mohon kepada insan pers agar bisa memberitakan informasi yang positif, sehingga masyarakat Bangkalan bisa mengetahui kinerja Pemkab Bangkalan,” tandasnya.

Ketua PWI Bangkalan yang baru dilantik Moh. Amin menyampaikan, PWI merupakan salah satu wadah bagi wartawan Bangkalan untuk memberikan informasi yang aktual bagi warga Indonesia, khusunya Bangkalan. Sehingga dengan keprofesian ini wartawan Bangkalan bisa manangkal berita hoaks.

"Adanya PWI Bangkalan ini bisa memberikan informasi kepada masyarakat Bangkalan, serta bisa menangkal adanya hoaks yang bergulir di lingkaran masyarakat Bangkalan,” katanya.

Selain itu, Amin berharap PWI Bangkalan bisa bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mengetahui program kerja yang telah dilaksanakan pemerintah.

“Kami beharap PWI Bangkalan ini bisa menjadi mitra bagi Pemkab Bangkalan dalam memberikan informasi kepada masyarakat dan sekaligus menjadi kontrol dari setiap program kerja pemerintah,” harapannya.

Pelantikan pengurus PWI Bangkalan ini langsung digelar setelah konferensi II di ruang rapat Sujaki, Sabtu (3/8/2019) yang dihadiri Ketua PWI Jawa Timur, Ainurrohim.

Moh Amin terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWI Bangkalan periode 2019-2022. Jurnalis Harian Duta Masyarakat itu memegang tongkat estafet kepemimpinan organisasi wartawan tertua di Kota Salak. (Humas PWI)