Berita

Press Rilis

Wawasan Jurnalistik

Recent Posts

PWI Pamekasan Terbitkan buku Madura dalam Sorotan Media

PWI Pamekasan 8.5.20 Add Comment
PWINews - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan menerbitkan buku karya jurnalistik berjudul "Bukan (tanda tanya): Madura dalam Sorotan Media" yang menyajikan berbagai fenomena sosial kemasyarakatan hingga olahraga.

Buku yang dikemas dalam buku rampai setebal 454 halaman tersebut, merupakan karya para wartawan yang tergabung di organisasi profesi wartawan, yakni PWI Pamekasan.

"Jadi buku rampai ini merupakan kumpulan karya jurnalistik teman-teman jurnalis Pamekasan," kata Ketua PWI Pamekasan, Abd Aziz dalam keterangan pers di Gedung Graha Insan Media, Kantor PWI di Jalan Ronggosukowati Pamekasan, Kamis (7/5/2020) malam.

Dalam karya yang mendapatkan apresiasi dari Ketua PWI Provinsi Jawa Timur, Ainur Rohim juga mengupas tuntas berbagai fenomena di Madura. Mulai dari aspek budaya, ekonomi, pendidikan, politik, sosial kemasyarakatan maupun berbagai aspek lainnya.

"Ungkapan terima kasih kami sampaikan kepada Ketum PWI Jatim yang telah bersedia memberikan sambutan di buku ini, termasuk juga para pengurus PWI Jawa Timur lainnya yang terus mendorong agar budaya literasi tetap terjaga di kalangan insan pers," ungkapnya.

Tidak hanya itu, inisiasi menerbitkan buku tidak lepas dari upaya jajaran pengurus PWI Pamekasan untuk terus menjaga budaya literasi, khususnya di kabupaten yang juga berinisiatif untuk terus menumbuhkan budaya literasi di masyarakat.

"Orientasi penting dari terbitnya buku ini tidak lepas dari upaya kami untuk mendorong budaya literasi di kalangan insan pers, tidak kalah penting tentunya marwah jurnalis sebagai penyampai risalah terpelihara dengan baik di tengah membanjirnya arus informasi saat ini," katanya.

Aziz juga berharap, terbitnya buku tersebut nantinya dapat menjadi motivasi kepada para insan pers, khususnya di organisasi yang dipimpinnya, agar terus menjunjung tinggi etika jurnalistik.

"Selain mendorong peningkatan budaya literasi dan menjaga marwah profesi, kita harapkan hal ini terus berlangsung pada tahun mendatang dan tentunya dengan kemasan berbeda dan lebih baik," harap wartawan LKBN ANTARA Biro Jawa Timur ini.

"Kami akui buku ini masih terdapat beberapa kekurangan, semoga pada terbitan berikutnya bisa lebih baik lagi dan tentunya dengan gagasan dan ide yang lebih progresif dan up to date. Sehingga dapat memotivasi rekan-rekan jurnalis untuk terus meningkatkan budaya literasi," katanya.

Ada 12 sub bahasan yang disajikan dalam buku yang diterbitkan oleh CV Duta Media ini.

Masing-masing, 1). Menggoli Potensi, Menata Birokrasi, 2). Potret dan Peristiwa, 3). Toleransi dan Pluralisme, 4). Konflik dan Dinamika Sosial, 5). Politik, 6). Seni dan Budaya, 7). Ekonomi dan Kesra, 8). Jurnalis, Media dan Komunikasi, 9). Pendidikan, 10). Olehraga, 11). Prestasi dan Profil.

Rencana awal buku ini, akan diluncurkan pada malam resepsi peringatan Hari Pers Nasional (HPN) oleh PWI Pamekasan pada April 2020  lalu, namun karena terjadi wabah corona, maka malam puncak resepsi HPN ditiadakan.

"Semoga buku perdana yang terbit di tengah pandemi corona ini nantinya akan menjadi penyemangat bagi insan pers di Pamekasan dalam menguatkan nilai-nilai jurnalistik dan beretika dan mampu membangun optimisme publik," kata alumni Magister Media dan Komunikasi Unair Surabaya ini.

Buku bunga rampai berjudul "Bukan (tanda tanya): Madura Dalam Sorotan Media" ini merupakan buku kedua hasil karya jurnalis di Indonesia yang terbit di tengah pandemi corona.

Buku lainnya adalah buku berjudul  "Bertahan di Wuhan: Kesaksian Wartawan Indonesia di Tengah Pandemi Corona" yang ditulis wartawan LKBN ANTARA M Irfan Ilmi saat bertugas melakukan liputan di Negara Tirai Bambu itu. (Humas PWI Pamekasan).

KAHMI-PWI bagi-bagi sembako pada warga terdampak COVID-19 Pamekasan

PWI Pamekasan 18.4.20 Add Comment
PWINews - Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Preneur bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu, membagi-bagikan sembako kepada warga terdampak COVID-19 di wilayah itu.

Sembako hasil sumbangan Co-Founder KAHMI Preneur Pusat, masyarakat dan anggota KAHMI di Madura dan Jawa Timur dibagikan secara simbolis kepada penerima bantuan di Posko Wartawan Peliput COVID-19 di Gedung Insan Media di Jalan Ronggosukowati Nomor 13 Pamekasan.

"Kami berharap pemberian ini tidak dinilai dari sisi jumlahnya, akan tetapi dari sisi kepedulian kami terhadap masyarakat miskin dan kurang mampu yang terdampak wabah COVID-19," kata Koordinator Program KAHMI Care Madura Sulaisi Abdurrazak.

Paket sembako yang dibagikan itu meliputi, beras 3 kilogram, 1 kilogram minyak goreng, mie instan, mie kering, dan kecap. Program ini sebagai upaya untuk meringankan beban pemerintah dan masyarakat terdampak COVID-19 di Kabupaten Pamekasan.

Warga penerima bantuan yang sebelumnya didata terlebih dahulu oleh para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diundang datang ke Posko Wartawan Peliput COVID-19 untuk menerima bantuan dengan menukar kupon yang telah diberikan.

Satu persatu penerima bantuan dipanggil oleh panitia untuk menerima paket sembako hasil sumbangan dariaka organisasi KAHMI Prenuer di Kabupaten Pamekasan ini.

Mutmainnah, salah seorang penerima bantuan paket sembako KAHMI Prenuer asal Desa Trasak ini mengaku, bantuan itu sangat berarti dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarganya.

Sebab, sejak COVID-19 mewabah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pamekasan penghasilan dirinya cenderung turun drastis.

"Melalui bantuan ini, sangat membantu meringankan beban kebutuhan rumah tangga kami," ujar perempuan ini.

Hal senada juga disampaikan penerima bantuan Hasan Basri asal Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan.

Pria ini menuturkan, sebagian masyarakat di desanya merasa sangat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. "Alhamdulillah, saat ini ada pihak yang peduli, dan semoga wabah ini bisa cepat berlalu," ujar Hasan.

Menurut Founder KAHMI Preneur Kamrussamad, KAHMI Care merupakan program yang dicanangkan sebagai upaya mengimplementasikan visi dan misi KAHMI sebagai kader umat dan kader bangsa.

"Selama ini, KAHMI Care fokus pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gizi buruk, namun, dalam situasi dunia yang cemas karena dampak wabah COVID-19, KAHMI Preneur melalui KAHMI Care harus berada di garda terdepan untuk menjadi public service for humanity", kata Kamrussamad.

Co-Founder KAHMI Prenuer Pusat Totok Sugiharto berharap, kegiatan aksi kemanusiaan yang digelar KAHMI Prenuer bersama organisasi profesi wartawan, PWI bisa menginspirasi kelompok dan organisasi masyarkat lainnya untuk ikut peduli dan melakukan hal sama, mengingat kini banyak masyarakat di berbagai belahan Bumi Nusantara membutuhkan uluran tangan akibat dampak COVID-19.

Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz menyatakan, kerja sama antara KAHMI Preneur dengan organisasi yang dipimpinnya itu sebagai wujud komitmen kalangan insan pers untuk ikut berpartisipasi mengatasi persoalan yang terjadi di masyarakat.

"Saya juga berharap kegiatan baik ini juga bisa menginspirasi bagi kelompok dan elemen masyarakat lainnya," kata Aziz.

Alumni Magister (S2) Media dan Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ini lebih lanjut menjelaskan, PWI akan terus menjadi mitra guna menyuarakan kepentingan publik yang menyangkut persoalan bangsa, khususnya terkait penanganan COVID-19 yang kini sudah menjadi persoalan global, tak terkecuali di Kabupaten Pamekasan yang telah ditetapkan sebagai zona merah dalam penyebaran virus corona.

"Selain bekerja sama dengan KAHMI Preneur, kami juga bekerja sama dengan klub Madura United, juga menyerahkan bantuan sembako kepada warga terdampak COVID-19," ujar Aziz.

Selain Koordinator KAHMI Care Madura Sulaisi Abdurrazak dan Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz, hadir pula dalam kegiatan itu, para aktivis Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK), HMI Komisariat Insan Cita dan HMI Komisariat Syariah IAIN Madura serta beberapa kader HMI yang membantu menyalurkan paket sembako kepada warga yang berhak menerima bantuan.

Sejumlah pengurus PWI seperti Sekretaris PWI Pamekasan Esa Aris AS, Wakil Ketua Bidang Advokasi Muchsin,
Wakil Sekretaris Bidang Organisasi Ahmad Soleh, Wakil Sekretaris Bidang Advokasi Dedy Priyanto, Wakil Bendahara Marzukiy, dan Sekretaris SIWO PWI Pamekasan  Fathol Arif dalam kegiatan bakti sosial itu. (Humas PWI Pamekasan)

Sejarah Panjang Pers Nasional Indonesia

PWI Pamekasan 5.12.19 Add Comment
PWINews - HARI Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Februari, diambil dari tanggal lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946.

Hari Pers Nasional ditetapkan Presiden Suharto pada 1985 melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional.

Terlepas dari penolakan sejumlah organisasi pers non-PWI terhadap hari tersebut, pelaksanaan Hari Pers Nasional tetap berlangsung meriah setiap tahun.

Dilaporkan Kantor Berita Antara, Pers di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Maskun Iskandar dalam "Panduan Jurnalistik Praktis", Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen adalah yang pertama kali memprakarsai penerbitan sebuah "newsletter" yang bernama "Memorie der Nouvelles" pada 1615.

"Memorie der Nouvelles" merupakan surat yang ditulis tangan berisi berita-berita dari Belanda dan disebarkan dari Jakarta untuk kalangan pejabat Perkumpulan Dagang Hindia Timur (VOC) hingga Ambon.

Hanya orang-orang tertentu yang dianggap penting yang menerima "newsletter" tersebut karena hanya dibuat terbatas 30 eksemplar.

"Waktu itu di Indonesia belum ada mesin cetak, mesin stensil, apalagi mesin fotokopi dan faks, sehingga salinan harus ditulis tangan. Jadi, ya, pegal, dong, kalau menulis lebih banyak dari itu," tulis Maskun.

Keinginan menerbitkan surat kabar di Hindia Belanda saat itu sebenarnya sudah sangat lama, tetapi selalu dihambat oleh pemerintah VOC.

Baru setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff menjabat, terbitlah surat kabar "Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen" yang artinya "Berita dan Penalaran Politik Batavia" pada 7 Agustus 1744.

Surat kabar yang diterbitkan Jan Erdmans Jordens itu memperoleh izin untuk masa kontrak tiga tahun. Penerbitan pertama langsung dikirim ke Belanda menggunakan kapal yang memerlukan perjalanan selama tujuh bulan.

Setelah menerima salinannya, pimpinan VOC di Belanda, yaitu De Heeren Zeventien, seketika melarang penerbitan surat kabar tersebut. Surat larangan dikirim dari Belanda pada November 1745 dan baru sampai di Batavia 20 Juni 1746.

"Dengan demikian, seraya menunggu izin, surat kabar tersebut sempat beredar selama dua tahunan," tulis Maskun. Demikian dilaporkan Kantor Berita Antara.

Asep Saeful Muhtadi dalam "Pengantar Ilmu Jurnalistik" menulis surat kabar terbit silih berganti pada abad ke-19 pada masa penjajahan Inggris dan Belanda.

Ketika Inggris menguasai wilayah Hindia Timur pada 1811, terbit surat kabar berbahasa Inggris "Java Government Gazzete" pada 1812. Ketika Belanda kembali menguasai kawasan tersebut, surat kabar berbahasa Inggris tersebut dihentikan dan terbit "Bataviasche Courant" yang memuat berita-berita harian dan artikel-artikel pengetahuan.

"Bataviasche Courant" kemudian diganti menjadi "Javasche Courant" yang terbit tiga kali seminggu pada 1829 yang memuat pengumuman-pengumuman resmi, peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. Tahun yang sama, terbit pula sejumlah surat kabar di berbagai kota di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Pada 1851, "De Locomotief" terbit di Semarang. Surat kabar ini memiliki semangat kritis terhadap pemerintahan kolonial dan pengaruh yang cukup besar.

Salah satu wartawannya adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, yang setelah kemerdekaan berganti nama menjadi Danudirja Setiabudhi.

Cucu keponakan dari penulis kritis Belanda Eduard Douwes Dekker atau Multatuli itu, bahkan ikut mendorong kebangkitan nasional karena kedekatannya dengan pemuda-pemuda yang kelak mendirikan Budi Utomo.

Kantor Berita Antara melaporkan, pada paruh kedua abad ke-19, untuk menandingi surat kabar-surat kabar berbahasa Belanda, muncul surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa meskipun para redakturnya masih orang-orang Belanda, seperti "Bintang Timoer" (Surabaya, 1850), "Bromartani" (Surakarta, 1855), "Bianglala" (Batavia, 1867), dan "Berita Betawie" (Batavia, 1874).

Pada 1907, terbit "Medan Prijaji" di Bandung yang dianggap sebagai pelopor pers nasional karena diterbitkan oleh pengusaha pribumi untuk pertama kali, yaitu Tirto Adhi Soerjo.

"Adhi Soerjo dikenal pula sebagai wartawan Indonesia yang pertama kali menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum," tulis Asep Saeful Muhtadi dalam "Pengantar Ilmu Jurnalistik".

Pers pribumi semakin tumbuh seiring dengan pergerakan nasional. Beberapa surat kabar yang bersifat nasional dan dinilai radikal, antara lain "Oetoesan Hindia" (Surabaya, 1914) di bawah Sarekat Islam, "Neratja" (Batavia, 1917), "Boedi Oetomo" (Yogyakarta, 1920), "Sri Djojobojo" (Kediri, 1920), "Tjaja Soematra" (Padang, 1914), "Benih Merdeka" (Medan, 1919), "Hindia Sepakat" (Sibolga, 1920), "Oetoesan Islam" (Gorontalo, 1927), dan "Oetoesan Borneo" (Pontianak, 1927).

"Pers di Indonesia pada dasarnya terus berkembang dan digunakan sebagai alat perjuangan," tulis Asep.

Seiring dengan peningkatan gerakan-gerakan politik radikal di Indonesia, terutama setelah 1920, jumlah surat kabar nasional semakin meningkat pesat dengan daerah penyebaran mencapai kota-kota kecil.

Di Bandung terbit "Sora Mardika" (1920), di Tasikmalaya terbit "Sipatahoenan" (1924), di Padang terbit "Soematra Bergerak" (1922), di Sibolga terbit "Tapanoeli" (1925), di Malang terbit "Soeara Kita" (1921), di Purworejo terbit "Soeara Kaoem Boeroeh" (1921), di Banjarmasin terbit "Soeara Borneo" (1926), dan di Garut terbit surat kabar berbahasa Sunda "Sora Ra'jat Merdika" (1931).

Pers Islam pun mulai tumbuh dengan penerbitan surat kabar "Pedoman Masjarakat" (Medan, 1935), "Pandji Islam" (Medan, 1934), "Perasaan Kita" (Samarinda, 1928), "Ra'jat Bergerak" (Yogyakarta, 1923).

Beberapa tokoh yang bisa dianggap berjasa merintis dunia pers Indonesia sekitar awal abad ke-20, antara lain Parada Harahap, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Abdul Muis, dan Haji Agus Salim.

Beberapa tokoh pergerakan nasional Indonesia juga memanfaatkan surat kabar-surat kabar untuk memublikasikan tulisan-tulisannya yang mengarah pada kemerdekaan, seperti Muhammad Hatta, yang banyak menulis di "Daulat Ra'jat" terbitan Jakarta sekaligus menjadi pemimpin redaksi "Oetoesan Indonesia" terbitan Yogyakarta, dan Sukarno yang banyak menulis dan terlibat dalam penerbitan "Fikiran Ra'jat" di Bandung.

Zikri Fachrul Nurhadi dalam "Teori Komunikasi Kontemporer" menulis salah satu hal yang diperebutkan beberapa saat setelah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia adalah pers. Yang direbut terutama adalah peralatan percetakan.

Perebutan itu terjadi di perusahaan surat kabar milik Jepang, seperti "Soeara Asia" (Surabaya), "Tjahaja" (Bandung) dan "Sinar Baroe" (Semarang). Hingga 19 Agustus 1945, 2605 surat kabar telah terbit dengan pemberitaan utama seputar proklamasi dan kemerdekaan Indonesia.

September hingga akhir 1945, pers nasional semakin kuat ditandai dengan penerbitan "Soeara Merdeka" di Bandung dan "Berita Indonesia" di Jakarta, serta beberapa surat kabar lain, seperti "Merdeka", "Independent", "Indonesian News Bulletin", "Warta Indonesia", dan "The Voice of Free Indonesia".

"Di masa itulah koran dipakai alat untuk mempropagandakan kemerdekaan Indonesia. Meskipun masih mendapat ancaman dari tentara Jepang, namun dengan penuh keberanian mereka tetap menjalankan tugasnya," tulis Zikri Fachrul Nurhadi dalam "Teori Komunikasi Kontemporer". Demikian dilaporkan Kantor Berita Antara.

Perkembangan pers nasional yang semakin pesat setelah proklamasi membuat para wartawan semakin sibuk memburu berita. Untuk menertibkan dan mempersatukan mereka, para wartawan pun mengadakan kongres di Solo.

Pada 9 Februari 1946, disepakati pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan Mr Sumanang ditunjuk sebagai ketuanya. (PWI)

Wakil Ketua DPR RI Dukung Kegiatan Orientasi Wartawan

PWI Pamekasan 5.12.19 Add Comment
PWINews - Pengurus Harian Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jakarta (PWI Jaya) melakukan audiensi kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Wisma Nusantara III, kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (5/12/2019). Selain melakukan silatuhrahmi, audien membahas beberapa agenda terkait kegiatan jurnalistik.

Dasco menyebut, media merupakan salah satu instrumen penting bagi tumbuh kembangnya demokrasi di republik ini. Selaku pimpinan DPR, politisi Partai Gerindra ini mengaku senang dikunjungi pengurus PWI.

“Saya menerima kunjungan kawan-kawan pengurus baru PWI DKI Jakarta untuk bersilaturrahim dan bertukar-pikiran. Banyak ide atau gagasan yang bisa didiskusikan, mulai peningkatan kompetensi wartawan, sinergisitas program, dan penguatan media, terkhusus di DPR supaya lebih membumikan produk-produk yang dihasilkan DPR di masyarakat,” papar Dasco, sapaan akrabnya.

Dasco mendukung langkah PWI untuk melakukan sejumlah agenda kegiatan, utamanya orientasi wartawan untuk syarat menjadi anggota PWI dan bisa mengikuti uji kompentensi wartawan (UKW). “Hubungan DPR dengan media cukup baik. Selama ini saya tidak pernah mengalami masalah dengan siapa saja. Media dengan saya baik-baik semua,” ujarnya.

Namun menurutnya yang paling penting kita minta dibantu untuk produk-produk DPR ke masyarakat. “Mengenai produk DPR, kita mengadakan acara Ngopi Sore, yang akan dilakukan dua minggu sekali,” kata legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Tangsel, Kabupaten dan Kota Tangerang.

Kita, lanjut Dasco, minta agar produk-produk dari DPR dapat tersosialisasikan dengan media. “Kebanyakan permasalahan demo-demo yang ada saat ini, karena tidak tersosialisasinya informasi di masyarakat,” papar Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Selaku Pimpinan DPR, ia mengaku senang dikunjungi pengurus PWI Jaya bahkan ia pun mendukung pengurus PWI Jaya untuk menyelenggarakan kegiatan orientasi bagi para wartawan.

Sementara itu Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah mengatakan, silaturahmi kali ini masih merupakan bagian dari perkenalan pengurus baru PWI Jaya, juga berdiskusi dan saling memberikan masukan. (Humas PWI)