Berita

Press Rilis

Wawasan Jurnalistik

Recent Posts

Memahami Peran Media Massa dan Media Sosial

PWI Pamekasan 27.3.21 Add Comment



PWINews
Media massa dan media sosial memiliki peran yang sama dalam menyampaikan informasi kepada khalayak. Akan tetapi keduanya memiliki pola kerja yang berbeda. Proses distribusi informasi di media massa sangat ketat, dan tidak semua orang bisa menyajikan informasi, akan tetapi di media sosial, semua orang bisa menjadi wartawan, karena di media sosial penyajian informasi tidak ketat.

Inilah hasil bincang-bindang tim podcast mahasiswa tentang pers, pers kampus dan pers di luar kampus. Termasuk kita berbincang tentang kondisi media massa hari ini. Di tengah gempuran new media; facebook, whatsApp, instagram, dll. Termasuk juga, kita berbincang tentang sebuah keniscayaan dalam tubuh media untuk memihak, bersama ketua PWI Pamekasan Abd Aziz. (PWI Pamekasan)



Polda Jatim Gandeng PWI Perangi Berita Hoax

PWI Pamekasan 24.2.21 Add Comment

PWINes
- Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Dr. Nico Afinta, mengajak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur bersama-sama memerangi berita tidak benar (Hoax) di Jatim. Hal itu disampaikan saat audiensi dengan PWI di Lobby Tribrata, lantai 2 Mapolda Jatim, Selasa (23/2/2021).

Kapolda didampingi Pejabat Utama (PJU) Polda Jatim, serta Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan keseriusannya dalam memerangi hoax. Bahkanjika perlu dibentuk suatu badan, maka bisa diisi dari beberapa unsur mulai dari Pemerintah, Kepolisian, Pakar hingga Asosiasi Cyber. Sehingga kedepan dalam penanganan berita hoax ada aturan hukum yang berlaku.

PWI sendiri menjadi bagian penting di dalam menangkal berita hoax yang ada di Jatim. “Berita hoax ini berbahaya jika dikonsumsi oleh publik. Sehingga kami, Polri bekerjasama dengan PWI Jatim akan memerangi serta menangkal berita hoax yang ada di Jatim,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta, Selasa (23/2/2021) siang.

Dia menambahkan, terkait dengan penanganan Covid-19 di wilayah Jatim, pihaknya akan memperpanjang PPKM Mikro hingga bulan Maret 2021 mendatang. Pasalnya, PPKM Mikro dinilai dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19 di wilayah Jawa Timur. “Penanganan Covid-19 dengan penerapan PPKM sangat efektif mengurangi penyebaran Covid-19,” jelas Kapolda.

Sementara itu, ketua PWI Jatim, Ainur Rohim menyatakan bahwa PWI Jatim sangat mendukung langkah Kapolda Jatim dalam menangkal berita hoax. “Kami sangat mendukung langkah Bapak Kapolda untuk menangkal berita hoax di Jatim. Selain itu, PWI sendiri berencana akan melakukan sosialisasi kepada pelajar SMA di Jatim agar mengerti serta memahami berita hoax,” pungkasnya. (Rilis PWI)

PWI Pamekasan Buka Pendaftaran Diklat Jurnalistik

PWI Pamekasan 9.2.21 Add Comment


PWINews - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan membuka pendaftaran diklat jurnalistik mahasiswa, pelajar dan umum angkatan pertama dan diklat ini akan berlangsung selama tiga bulan mulai Maret hingga Mei 2021.

"Pendaftaran mulai hari ini, hingga 25 Februari 2021 di Kantor Sekretariat PWI di Jalan Ronggosukowati Nomor 13 Pamekasan," kata Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz, Selasa (9/2/2021).

Diklat jurnalistik terapan ini sengaja digelar sebagai bentuk kontribusi PWI Pamekasan dalam berbagai ilmu dan pengalaman tentang jurnalistik.

Diklat yang akan berlangsung selama tiga bulan ini akan dibagi dalam dua bentuk kegiatan, yakni penyampaian materi diklat selama dua bulan dengan 8 kali pertemuan, dan praktik lapangan 1 bulan.

Kuota calon peserta diklat 15 orang, dan diharapkan bisa menyebar ke sejumlah perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Pamekasan.

Skenario diklat sebagai berikut; 

1). Bulan Pertama empat kali pertemuan dengan materi dasar-dasar jurnalistik.

2). Bulan kedua, pemilahan kategori/penjurusan. Misalnya radio, televisi, online, dan media cetak dengan jumlah pertemuan sama seperti bulan pertama, yakni empat kali pertemuan. Materi khusus pada spesifikasi kategori/pejurusan yang telah dipilih oleh peserta, sehingga dari 15 orang peserta itu, nantinya akan dibagi dalam empat kelompok (kelompok radio, televisi, online dan cetak).

3). Bulan ketiga, penugasan lapangan. Peserta diajak liputan bareng atau ditugaskan melakukan liputan lapangan dengan mentor wartawan anggota PWI dari media di masing-masing kategori ini. Jika hasil liputannya layak ditayangkan media, maka akan ditayangkan dengan atas nama wartawan yang menjadi mentor tersebut. 

4). Bagi peserta yang bisa melakukan liputan dengan baik dan hasilnya layak tayang di media, maka yang bersangkutan akan dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Tapi jika tidak layak tayang, maka peserta hanya akan mendapatkan sertifikat telah mengikuti diklat jurnalistik dasar yang diselenggarakan oleh PWI Pamekasan.

Bagi yang berminat mendaftar untuk mengikuti diklat jurnalistik terapan PWI Pamekasan ini, bisa mendaftar ke kantor Sekretariat PWI Pamekasan pada penerima pendaftaran Hasibudin (081913745888) dan Hasan (087758413069) (Humas PWI Pamekasan)

Sejarah HPN 9 Februari dan Tema HPN 2021

PWI Pamekasan 8.2.21 Add Comment


PWINews
- Hari Pers Nasional diperingati pada 9 Februari setiap tahunnya, dan peringatan ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985, disebutkan bahwa Pers Nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Dewan Pers menetapkan Hari Pers Nasional (HPN) dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi se-Indonesia.

Sejarah Hari Pers Nasional

Sejarah lahirnya surat kabar dan pers sebenarnya berkaitan serta tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan.

Di zaman revolusi fisik, lebih terasa lagi betapa pentingnya peranan dan eksistensi pers sebagai alat perjuangan.

Pada 8 Juni 1946 di Yogyakarta, berkumpullah para tokoh surat kabar, tokoh-tokoh pers nasional, untuk mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS).

Kepentingan untuk mendirikan SPS pada waktu itu bertolak dari pemikiran bahwa barisan penerbit pers nasional perlu segera ditata dan dikelola, dalam segi idiil dan komersialnya, mengingat saat itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya.

Sebenarnya SPS telah lahir jauh sebelum tanggal 6 Juni 1946, yaitu tepatnya empat bulan sebelumnya bersamaan dengan lahirnya PWI di Surakarta pada tanggal 9 Februari 1946.

Karena peristiwa itulah, orang mengibaratkan kelahiran PWI dan SPS sebagai "kembar siam". Di balai pertemuan "Sono Suko" di Surakarta pada tanggal 9-10 Februari itu, wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul dan bertemu.

Pertemuan tersebut di antaranya menyetujui pembentukan organisasi wartawan Indonesia dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diketuai Mr. Sumanang Surjowinoto dengan sekretarisnya Sudarjo Tjokrosisworo.

Sumanang dan Sudarjo bersama 8 anggota lainnya kemudian bertugas merumuskan hal-ihwal persuratkabaran nasional waktu itu dan usaha mengoordinasinya ke dalam satu barisan pers nasional di mana ratusan jumlah penerbitan harian dan majalah yang terbit hanya memiliki satu tujuan.

Tujuan itu adalah "Menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda, mengobarkan nyala revolusi, dengan mengobori semangat perlawanan seluruh rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional, untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.”

Lalu sekitar 28 Februari hingga Maret 1946, komisi bertemu lagi di Surakarta menghadiri sidang Komite Nasional Indonesia Pusat.

Komisi bersidang dan membahas masalah pers yang dihadapi, yang pada prinsipnya sepakat membentuk sebuah wadah untuk mengoordinasikan persatuan pengusaha surat kabar, waktu itu disebut Serikat Perusahaan Suratkabar.

26 tahun kemudian, menyusul lahir Serikat Grafika Pers (SGP), antara lain karena pengalaman pers nasional menghadapi kesulitan di bidang percetakan pada pertengahan tahun 1960-an.

Pada Januari 1968, sebuah nota permohonan yang mendapat dukungan SPS dan PWI dilayangkan kepada Presiden Soeharto waktu itu, agar pemerintah turut membantu memperbaiki keadaan pers nasional, terutama dalam mengatasi pengadaan peralatan cetak dan bahan baku pers.

Sejauh ini, para wartawan dari generasi 1945 yang masih aktif tetap menjalankan profesinya dengan semangat mengutamakan perjuangan bangsa, kendati rupa-rupa kendala menghadang kiprahnya.

Mengingat sejarah pers nasional sebagai pers perjuangan dan pers pembangunan, maka tepatlah keputusan Presiden Soeharto tanggal 23 Januari 1985 untuk menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional.


Peringatan Hari Pers Nasional 2021

Dalam rangka memperingati HPN 2021, Presiden Joko Widodo akan menghadiri acara puncak HPN dari Istana Merdeka secara virtual pada 9 Februari mendatang.

Berdasarkan rilis PWI Pusat, Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyampaikan rencana kehadiran Presiden ketika menerima audensi secara virtual pengurus PWI Pusat dan Panitia Hari Pers Nasional 2021 pada pukul 09.30 WIB.

Tema HPN 9 Februari 2021

Hari Pers Nasional 2021 mengangkat tema "Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan".

Pratikno berharap, peringatan ini bisa menjadi salah satu pilar demokrasi bersama negara mengawali kebangkitan dan kekuatan untuk keluar dari pandemi COVID-19.

HPN 2021 akan menghadirkan serangkaian kegiatan, seperti seminar, konvensi, dan acara puncaknya dipusatkan di Ancol.

Acara ini akan diikuti secara virtual oleh ribuan wartawan anggota PWI dari seluruh Indonesia serta anggota organisasi konstituen Dewan Pers. (Rilis Panitia HPN 2021)