Jurnalis Pamekasan dukung TNI-Polri ciptakan suasana kondusif

PWINews - Kalangan jurnalis dari berbagai media di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur mendukung upaya TNI-Polri di wilayah itu dalam mewujudkan situasi kondusif pasca terjadinya ricuh 21-22 Mei 2019 di Jakarta, melalui pemberitaan yang mendidik dan mencerahkan publik.

"Dukungan media melalui pemberitaan yang mendidik dan mencerahkan sangat penting, mengingat media juga memiliki peran penting dalam ikut memberikan pencerahan melalui berita yang disampaikan kepada publik," kata Wakil Sekretaris Bidang Kerja Sama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan Rafiqi di Pamekasan, Kamis.

Reporter Radio Karima FM Pamekasan ini menyatakan, media merupakan pilar keempat dalam sebuah negara yang menerapkan sistem demokrasi, sehingga peran media bisa menjadi pertimbangan dalam ikut mengarahkan opini publik terkait dengan perdamaian, persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Sesuatu yang dinggap penting dan menjadi bingkai berita media, maka dipandang publik sebagai seuatu yang penting pula, dan demikian juga sebaliknya. [Baca Juga: PWI - Aisyiyah MoU tentang Pemberantasan Tubercolosis]

Dukungan PWI dalam upaya mewujudkan situasi di Kabupaten Pamekasan yang aman dan kondusif terhadap dua institusi tersebut, yakni TNI dan Polri disampaikan dalam acara buka puasa bersama yang digelar di aula Mapolres Pamekasan bersama komunitas paguyuban wartawan lokal Pamekasan, yakni Forum Wartawan Pamekasan (FWP) dan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP).

Tidak kurang dari 50 orang jurnalis dari berbagai media hadir dalam acara deklarasi itu, meliputi jurnalis televesi, radio, koran dan jurnalis media daring.

Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo mengapresiasi komitmen para jurnalis yang bertugas melakukan liputan jurnalistik di Kabupaten Pamekasan itu. [Baca Juga: Polres Pamekasan Wujudkan Zona Integritas Bersama Polres Pamekasan]

Ia mengatakan, berita yang berimbang dengan sumber informasi kompeten merupakan salah satu kunci dalam berupaya mengarahkan pemberitaan agar kondusif dan mendingin suasana.

Kepatuhan pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 dan kode etik jurnalistik merupakan hal pokok yang perlu diperhatikan, sehingga dengan cara itu, berita yang disampaikan menjadi akurat dan tidak bias, saat dibaca publik.

"Dukungan dari semua pihak, termasuk kalangan jurnalis, akan sangat berarti untuk terus mendinginkan suasa pasca kerusuhan yang terjadi di Jakarta kemarin dan imbasnya ke daerah-daerah," kata kapolres. [Polres Menerima Penghargaan Sebagai Lembaga Pemerintahan Paling Komunikatif di Pamekasan]

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Pamekasan Syamsuddin Lubis menyatakan, akhir-akhir ini, memang cenderung ada upaya di sebagian masyarakat untuk mengaburkan antara media massa dengan media sosial.

Upaya pengaburan dua jenis media berbeda itu, menurut dia, misalnya terlihat di beberapa postingan di jejaring sosial faceboook dan twitter. Banyak pengguna media sosial yang menjadikan media sosial sebagai rujukan seperti blogspot, sedangkan media massa daring arus utama cenderung kurang diminati, bahkan dianggap sebagai berita bohong.

Fenomena ini terjadi, seiring dengan perkembangan situasi politik yang kian memanas yang ditopang oleh kecanggihan teknologi informasi yang disalahgunakan. [Baca Juga: PWI-KONI Pamekasan Bersinergi Kawal Prestasi Olahraga]

"Maka dari itu, kerja sama yang baik antara kelompok organisasi profesi jurnalis dengan institusi Polres dan TNI kedepan, bisa mewujudkan kabupaten ini lebih baik lagi, yakni terwujudnya tatanan masyarakat dan kondusif," kata Jurnalis Koran Harian Bhirawa ini.

Orientasi pada nilai menurut dia, hendaknya harus menjadi pertimbangan. Cara pandang jurnalis bahwa "Bad News is Good News/berita jelek merupakan berita baik" harus diubah, menjadi "Good news is Good News/berita bagus adalah berita bagus".

"Dengan cara seperti ini, maka kami yakin, cita ideal tentang suasana aman yang kondusif, dan didukung oleh pemeritaan yang mencerahkan, bisa segara terwujud di kabupaten ini," kata Syamsuddin, menjelaskan. [Baca JUga: PWI-Bawaslu Pamekasan Bersinergi Canangkan Pengawasan Partisipatif]

Pengamat Media dan Komunitasi Esa Arief M.Ikom menyatakan, tugas berat insan pers di era disruptif seperti sekarang ini, adalah mengarahkan opini publik melalui pemberitaan yang disiarkan di medianya masing-masing untuk berpikir normatif, yakni mengarahkan berbagai jenis upaya dan tindakan yang berkembang di masyarakat dalam konteks kebangsaan secara konstitusional.

"Saya kira disini ini peran media dan insan pers sebagai lokomotif kontrol sosial dalam mengarahkan terlaksananya sistem demokrasi di negari ini dipertaruhkan," kata Esa yang juga Sekretaris PWI Pamekasan ini. (Humas PWI Pamekasan)

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »