Nikmatnya Satai Lalat Pamekasan

Pamekasan (PWINews) - Manajer Museun Rekor Dunia Indonesia (Muri) Sri Widayati mengakui, nikmatnya satai lalat khas Pamekasan.

"Gurih, lezat dan berasa banget," katanya saat ditanya wartawan di area Monumen Arek Lancor seusai memberikan piagam penghargaan kepada pemkab dalam kegiatan bakar satai lalat sebanyak 20.800 tusuk, Sabtu (29/10/2016) sore.

Sri Widayati sempat mencicipi satai lalat seusai menyerahkan piaga penghargaan kepada Bupati Pamekasan Achmad Syafii dan Ketua Penggerap PKK Anny Syafii, serta Direktur JTV Madura Ahmad Soleh.

Sesuai dengan namanya, Satai Lalat merupakan jenis satai kecil, seperti lalat, sehingga warga Pamekasan menyebutnya dengan "satai lalat". [Baca Juga: Bakar Satai Lalat Pemkab Pamekasan Pecahkan Rekor Muri]

Di Pamekasan, kuliner satai lalat ini banyak dijual di area Kuliner "Sae Salera", yakni di Jalan Niaga Pamekasan, sekitar 200 meter ke selatan Monumen Arek Lancor.

"Kalau satai lalat ini hanya di malam hari lho,,, karena yang jualan malam. Kalau siang tidak ada, yang ada hanya satai biasa," terang Bupati Pamekasan Achmad Syafii saat menyampaikan sambutan setelah menerima piagam dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Rekor Muri kali ini merupakan kali keampat. Sebelamnya Museum Rekor Dunia Indonesia juga pernah memberikan penghargaan kepada Pemkab Pamekasan dalam kegiatan Festival Sapi Sonok terbanyak pada 2015, merias diri terbanyak yang diikuti oleh para bidan dengan jumlah peserta 1.126 orang dan membuat batik tulis terpanjang, yakni 1.530 meter.

Aksi bakar Satai Lalat sebanyak 20.800 tusuk ini, merupakan bagian dari 32 rangkaian kegiatan yang digelar Pemkab Pamekasan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Ke-486 Kabupaten Pamekasan. (PWI-03)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »